Lockdown perumahan, bagaimana baiknya?

Lockdown adalah salah satu upaya untuk mengendalikan penyebaran penyakit infeksi. Lockdown mengharuskan sebuah wilayah menutup akses masuk maupun keluar sepenuhnya.

Masyarakat di wilayah yang diberlakukan lockdown tidak dapat lagi keluar rumah dan berkumpul, sementara semua transportasi dan kegiatan perkantoran, sekolah, maupun ibadah akan dinonaktifkan.

Namun penerapan lockdown di setiap negara atau wilayah memiliki cara atau protokol yang berbeda. Hal ini disesuaikan dengan kondisi wilayah tersebut. Sebagai contoh, lockdown di China berbeda dengan lockdown di Italia

Tujuan utama lockdown adalah mencegah virus keluar dari wilayah tersebut dan mencegah penyebaran virus di wilayah tersebut.

lockdown perumahan

Apa beda lockdown, isolasi dan karantina ?

Lockdown berarti tindakan mencegah orang untuk masuk atau keluar suatu wilayah/bangunan yang telah ditentukan selama ancaman bahaya berlangsung.

Isolasi artinya pemisahan yang dilakukan pada pasien infeksi penyakit dari orang-orang sehat di sekitarnya untuk menghindari terjadinya penularan.

Karantina adalah memisahkan dan membatasi pergerakan seseorang yang terpapar penyakit, tetapi tidak memiliki gejala. Tujuannya untuk mencegah kemungkinan adanya penyebaran penyakit.

Bagaimana lockdown di perumahan ?

Bila suatu wilayah ( perumahan) terdapat banyak kasus positif covid maka dapat dilakukan lockdown dengan tujuan mengurangi penyebaran penyakit di perumahan dan mencegah penyebaran virus ke luar perumahan.

Bila lockdown perumahan dilakukan maka semua warga tidak boleh melakukan aktivitas keluar rumah dan keluar wilayah tersebut. Termasuk tidak boleh berangkat kerja dsb. Begitu juga tidak boleh ada orang lain masuk ke wilayah tersebut. Hal itu tentu saja sulit untuk diaplikasikan tanpa peran serta aparat dan pemerintah setempat.

Yang paling tepat dilakukan adalah :

  1. Isolasi warga yang sakit dalam rumah. Dengan cara ini diharapkan mencegah penularan ke warga yang lain di perumahan tersebut. Tindakan isolasi ini menuntut dukungan dari komunitas perumahan tersebut untuk memenuhi kebutuhan pokok warga yang diisolasi. Yang sering kurang tepat diterapkan adalah warga sakit diisolasi di dalam rumah tapi tidak ada yang bertanggung jawab memenuhi kebutuhan pokoknya. Akhirnya warga yang sakit terpaksa keluar rumah untuk membeli makanan atau obat.

Yang salah kaprah juga, melarang gofood/grabfood memasuki wilayah perumahan zona merah. Padahal gofood/grabfood tersebut sangat membantu warga yang sakit untuk memenuhi kebutuhannya. Lalu lalang driver ojol ( termasuk pengantar paket) di perumahan tersebut tidak punya dampak apapun terhadap penyebaran penyakit. Mereka tidak kontak dengan warga lain dan penyerahan makanan/paket bisa secara tanpa kontak/contactless ( makanan/paket digantungkan di pagar). Kalau toh harus berbicara dengan driver/pengantar paket cukup dengan jaga jarak dan memakai masker. Yang harusnya takut adalah driver tersebut karena memasuki daerah zona merah. Warga yang keluar masuk perumahan karena harus bekerja lebih berisiko untuk menularkan. Karena itulah, untuk mencegah penyebaran penyakit di dalam perumahan, kerumunan antar warga tanpa protokol kesehatan dilarang.

2. Melarang aktivitas berkerumun di perumahan tersebut. Hal ini bertujuan mencegah penularan dari warga yang sebenarnya sakit ( tanpa gejala ) ke warga yang lain. Misal : arisan, hajatan, olahraga dll.

Bagaimana bila kegiatan tersebut dilakukan dengan protokol kesehatan ?

Kegiatan apapun bila dilakukan dengan protokol kesehatan yang benar dapat mencegah penularan. Contohnya dokter atau perawat yang merawat pasien covid.

Kegiatan/acara di perumahan dilarang karena tidak bisa mengawasi pelaksanaan protokol kesehatan di acara tersebut.

Bagaimana bila kegiatan di perumahan dapat dilakukan dengan protokol kesehatan? Misal : pedagang sayur keliling masuk ke perumahan dengan menggunakan masker yang benar dan ibu ibunya berbelanja dengan bergantian, jaga jarak dan memakai masker. Tentu ini lebih aman buat warga daripada ibu – ibunya terpaksa belanja ke pasar. Pergi ke pasar yang banyak orang  tentu lebih berisiko tertular daripada berbelanja di dalam perumahan yang bisa lebih diatur.

Adrieanta/Wahyu Wijanarko (Praktisi kesehatan)